Informasi dan komunikasi adalah sebuah disiplin ilmu yang terbilang cukup tua. Kemunculannya dapat dikatakan berbanding lurus dengan sejarah kemunculan umat manusia di muka bumi ini. Perkembangannya yang pesat menjadi semacam antisipasi bagi kehidupan manusia agar selalu siap menghadapi perubahan zaman.
Di masa kini, teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi kampiun bagi seluruh kehidupan manusia. Menjadi semacam tongkat pemandu, penujuk arah, jendela dunia, sumber data, “guru pembimbing”, dan bahkan di sebagian komunitas tertentu ia menjadi seperti “nabi” yang bisa menjadi mesin penggerak dan perubahan bagi sebagian besar aktivitas manusia.
Adalah internet, sebuah fakta tak terbantahkan dari wujud revolusi tekonologi informasi dan komunikasi. Sebuah keniscayaan yang menghubungkan kesadaran manusia akan pentingnya informasi dan komunikasi dengan cepat.
Pantas saja, awal era milenium ketiga ini beberapa orang menyebutnya dengan era “revolusi digital” atau “revolusi multimedia”. Walhasil, media informasi dan komunikasi yang digerakkan oleh teknologi internet tidak lagi disebut sebagai “agen” perubahan tapi sudah menjadi “panglima”. Fakta tersebut terus menerus mengalami penguatan melalui bukti-bukti yang juga terus bermunculan.
Dengan kecerdasannya, manusia telah menemukan sebuah “cara hidup” yang praktis, mudah, instan, cepat dan tanggap. Hampir semua sektor kehidupan manusia telah mengalami digitalisasi. Dikendalikan, ditakar, dan dimobilisasi melalui angka-angka secara eksakta. Era digital seolah telah menjadi “agama” yang dibawa oleh “nabinya” bernama teknologi.
REDUPNYA HATI NURANI
Proses digitalisasi merupakan wujud perkembangan akal manusia. Semakin pesat teknologinya, semakin cepat pula perkembangan akal manusia. Semakin asyik manusia menari-nari dengan akalnya, semakin dalam pula ketergantungannya pada akal. Semakin dalam ketergantungannya pada akal, manusia semakin tidak percaya kepada segala sesuatu di luar panca inderanya. Artinya, sesuatu yang tidak bisa diindera tidak patut dipercaya.
Manusia di era digital telah muncul sebagai “manusia rasional”. Segala sesuatu mesti masuk akal, mesti diukur dengan akal, dan harus bisa dijangkau melalui jendelanya, yakni panca indera. Jika tidak masuk akal, maka sesuatu itu tidak bisa dipercaya. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera, tidak boleh menjadi kepercayaan dan keimanan, bahkan dianggap tidak ada.
Era digital telah melahirkan manusia yang digerakkan secara eksakta, tanpa perasaan dan hati nurani. Seperti mesin, pikiran dan kehidupan manusia dikendalikan oleh sistem angka. Walhasil, manusia di era ini telah kehilangan hati nurani yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera.
Semua sektor kehidupan manusia tanpa penyertaan hati nurani. Bahkan agama mengalami nasib yang sama, yakni telah dipahami tanpa penyertaan hati nurani. Agama telah kehilangan visi langitnya, tidak lagi menjadi samawi. Basis rasio telah menjadi kacamata dalam beragama. Agama samawi (langit) telah berubah menjadi agama ardhi (bumi). Ajaran akhlaq dalam agama hanya semata-mata tuntunan moral belaka, tanpa visi langit.
Mata langit manusia di era digital telah mengalami kebutaan. Sedangkan mata buminya semakin terang, semakin jelas dan semakin menjadi sandaran. Padahal mata langit dan mata bumi adalah keseimbangan yang diamanahkan dalam ajaran agama. Itulah yang disebut nurani, bahasa Arab menyebutnya nuraani (dua cahaya; cahaya akal dan cahaya hati). Nurani adalah dua cahaya yang mesti dijadikan visi bagi orang beragama. Satu cahaya adalah visi langit dan satu cahaya lagi adalah visi bumi.
AGAMA MEDIA SOSIAL
Media sosial sebagai salah satu manifestasi revolusi digital memiliki peran penting dalam pembentukan pola pikir di abad ini. Pengaruh positif yang muncul dari inovasi itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Pengaruh negatifnya pun tak bisa dianggap enteng. Kebangkitan dan kehancuran manusia punya peluang yang sama.
Dakwah dan pembelajaran umat secara konvensional jauh tertinggal. Efektivitas tablighnya tertinggal berpuluh-puluh kali lipat dari metode dengan menggunakan media sosial. Setiap orang bisa dengan sangat mudah, kapan saja dan dimana saja, saling memberi dan mendapatkan “asupan” informasi.
Secepat kilat, arus informasi saling berkelindan menghampiri para pencari. Seolah arus deras informasi itu tanpa ampun menggilas dan menjejali siapa saja yang membutuhkannya. Tak peduli berkomposisi muatan racun atau madu, semua disiram tanpa pilih kasih. Tak peduli berada dimana dan disaat apa. Tak peduli siapa yang bangkit dan maju atau siapapun yang hancur dan binasa karenanya. Sisi positif dan negatif menjadi setara, filternya nafsi-nafsi.
Efektivitas pembelajaran umat manusia di era digital sama besarnya dengan Efektivitas pembinasaannya. Ucapan media sosial sudah seperti “Sabda Nabi” yang bisa mempengaruhi cara berfikir manusia. Dari anak-anak sampai para manula. Dari yang punya bekal pendidikan sampai yang tidak merasakan sekolah sedetikpun. Dari mereka yang hidup dan tinggal di perkotaan sampai mereka yang berada di pelosok-pelosok pedesaan. Semua punya kesempatan dan resiko yang sama.
Melalui media, orang bodoh bisa nampak seperti orang cerdas. Orang awam bisa nampak seperti ulama. Setiap orang bisa menumpahkan keadaan dirinya, uneg-unegnya, dan pemikirannya lewat tulisan, film, rekaman dan audio visual lainnya. Pun saat bersamaan setiap orang dapat dengan mudah mengkonsumsi informasi yang disebarkan oleh orang lain.
Era digital telah melahirkan manusia-manusia yang hanya mengandalkan panca inderanya. Situs-situs web, jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp, dll masuk tanpa reserve di setiap waktu, tempat dan keadaan setiap orang. Tak bisa dibendung, disaring dan dipilah-pilah kecuali oleh diri sendiri. Kemudahan mendapatkannya sama persis dengan menggerakkan kehendaknya melalui pikiran. Setiap orang mutlak dituntut membuat filter dan bendungan sendiri.
Hanya melalui tulisan, pikiran manusia begitu mudah dikendalikan. Berbagai kendali untuk sebuah kepentingan pun menjadi lebih mudah dimainkan. Proses sosialisasi dan publikasi menjadi sangat efektif. Agitasi dan propaganda melalui media semakin diperhitungkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Pesan-pesan ajakan melalui tulisan dan photo cukup membuat seseorang bersimpati atau berantipati. Emosi dapat dengan mudah dipicu dan cukup efektif menjadikan seseorang menjadi ekstrimis, radikalis, apatis, dan pesimis. Ujaran kebencian dan kedengkian saling berkelindan. Riya dan sum’ah semakin tak terdeteksi. Bahasa nasehat dapat diramu menjadi sebuah kebencian. Menasehati sekaligus membenci. Bertaubat sekaligus berbuat riya dan sum’ah.
Cara beragama yang diungkap melalui media sosial justru memiliki “madzhab” tersendiri. Agitasi dan propaganda politik di media sosial menjadi metode yang sangat efisien. Potensi konflik sangat besar menghantui para pengguna media. Terus menerus dipupuk, dihangatkan dan ditajamkan melalui ramuan-ramuan fitnah dan kebencian.
Seseorang dapat dengan mudah digiring, dikendalikan dan diarahkan. Mengapa begitu? Karena bahasa agama yang dikonsumsi di media sosial telah tercemar oleh kepentingan-kepentingan hegemoni.
Era revolusi digital sungguh menuntut kesiapsiagaan para penggunanya. Kesiapsiagaan itu harus dimulai dari perubahan paradigma yang dimunculkan dari hati nurani. Berapa banyak sudah para anak bangsa ditipu, dikriminalisasi, difitnah, distigmatisasi, dipublikasi dan diprovokasi melalui propaganda media karena kebohongan-kebohongan yang berselimut bahasa dan visualisasi agama. Agama telah menjadi makanan empuk bagi para pemangku kepentingan kapitalisme dan kekuasaan.
REFERENSI:
Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i. An-Nawâdir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar